Begitu strategisnya posisi apotek hingga tak bisa ti­dak, keberadaan gerai obat ini pun dimanfaat­kan per­usahaan untuk me­ngem­bangkan bisnis lain yang berbasis pelayanan kepada masyarakat.

Gedung di Jalan Veteran, Jakarta Pusat itu bukan lagi gedung ku­no yang tenggelam di antara ke­megahan gedung-gedung mo­dern di sekelilingnya. Termasuk, istana Negara yang hanya berjarak satu lemparan batu dengannya. Kimia Farma, memang sudah berbenah dan sedikit “ber­solek”. Bukan hanya dari sisi gedung yang direnovasi sejak 2004, tetapi dari strategi bisnis.

Sebagai salah satu pioner dalam in­dustri farmasi nasional, Kimia Farma su­dah cukup kenyang makan asam garam dan amat paham lika liku industri farma­si. Sudah 36 tahun PT Kimia Farma lahir. 16 Agustus tahun ini Kimia Farma genap berusia 36 tahun. Kalau ibarat usia ma­nu­sia, Kimia Farma tengah “matang-ma­tang”nya.

Dalam menjalankan roda bisnis, Kimia Farma tidak mau mengekor pesaing-pe­saingnya. Bila industri farmasi lain gencar dengan inovasi-inovasi produk baru dan in­vestasi teknologi bernilai tinggi, maka Ki­mia Farma memilih menjemput bola. Ca­ranya, dengan masuk ke tubuh ma­sya­ra­kat dan “berbaur” dengan masyarakat me­la­lui jaringan apotek. Bisa dikatakan, Apo­tek Kimia Farma yang bernaung da­lam sa­lah satu anak perusahaan, yakni PT Kimia Farma Apotek adalah ikon per­usahaan.

Hal ini tak ditampik Presiden Direktur PT Kimia Farma, Gunawan Pranoto. “Se­la­ma ini show-case Kimia Farma memang apotek. Tapi ke depan kita ingin menja­di­kan Kimia Farma sebagai health care com­pa­ny yang menyediakan pelayanan ke­se­hat­an yang paripurna. Itu menjadi tan­tang­an kita.”

Dengan bahasa lain, Gunawan yang me­mimpin Kimia Farma sejak 5 tahun la­lu ini ingin mengatakan, bahwa image Ki­mia Farma yang “hanya” apotek akan se­gera ditinggalkan. Apotek saja tidak akan cukup mengangkat Kimia Farma ke puncak persaingan industri farmasi na­sional. Apalagi target menjadi 3 besar sudah di­ca­nangkan.

Caranya? Segudang peluru rencana te­lah disiapkan Gunawan. Beberapa di an­ta­ranya bahkan sudah dijalankan. Target terdekat adalah menjadikan bisnis Kimia Far­ma menjadi satu rantai atau chain business yang saling bersinergi satu dan lainnya, tentu saja dengan kinerja lebih baik. Klise? Bisa jadi. Tetapi fakta ber­bicara, strategi itu berbuah manis. Me­ma­suki kuartal pertama 2007 ini, Kimia Far­ma ber­ada di posisi angka keramat, 8, di an­tara perusahaan farmasi –PMA mau­pun PMDN— yang ada di Indonesia. Per­tum­buhan produk hingga semester pertama 2007 mencapai 31%, meski penjual­an ha­nya naik 4,5%. Dari laporan keuang­an yang belum diaudit, di periode yang sa­ma, pundi-pundi perusahaan sudah naik dua ka­li lipat atau naik 100% dari tahun yang sama. Tahun 2006 Kimia Far­ma menca­tat­kan laba 60,63 miliar rupiah.

Apotek jadi rel distribusi

Jalan menjadi health care company su­dah dibuka lebar-lebar oleh jaringan apo­tek Kimia farma yang sangat modern. Pe­la­yanan ramah, dan suasana apotek yang nyaman —sebagian bahkan mene­rapkan sis­tem swalayan untuk obat-obat OTC, su­dah berhasil diterapkan di 330 apotek yang tersebar di seluruh wilayah Indo­ne­sia. Strategi pengembangan apo­tek ber­ha­sil mendongkak penjualan obat. Padahal ha­nya 10% obat milik Kimia Far­ma yang dijual di jaringan apotek Kimia Farma.

Meski jumlahnya belum signifikan (Gu­nawan menargetkan memiliki 1000 apo­tek), tetapi tahun lalu apotek menjadi kon­tributor terbesar yakni 44,23% dari se­­lu­ruh  pendapatan PT Kimia Farma. Pen­­jual­an produk hanya mencapai  19,65% dan sekitar 36,12% pendapatan diperoleh dari perusahaan distribusi me­lalui PT Kimia Farma Trading dan Dis­tribusi.

Begitu strategisnya posisi apotek hingga tak bisa tidak, keberadaan gerai obat ini pun dimanfaatkan perusahaan untuk mengembangkan bisnis lain yang berbasis pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya, klinik kesehatan. Saat ini sudah 92 klinik yang didirikan, kebanyakan me­le­kat dengan apotek. Keberadaan klinik yang dikelola Kimia Farma juga didukung oleh 23 laboratorium klinik sebagai salah satu unit usaha yang relatif baru, namun cukup menguntungkan.

Keunggulan-keunggulan itulah yang mem­buat Gunawan mantap menyongsong era perdanganan bebas 2008.  “Sa­ya tidak takut, bahkan optimis sekali ka­rena salah satu unggulan kita adalah me­miliki jaringan dan infrastruktur yang kuat,” tegas alumni Fakultas Farmasi UGM yang sempat menjadi orang nomer satu di Indofarma dan Phapros ini. Dan, tambah Gunawan, industri farmasi lain ti­dak sekuat Kimia Farma dalam hal ja­ring­an infrastruktur.

Corporate Image

Usaha memperkuat jaringan tidak lantas membuat bisnis lain terabaikan. Gu­na­wan menegaskan, bahwa bisnis lama te­tap dikembangkan. Di bidang manufaktur misalnya, Kimia Farma terus berusaha mengembangkan produk yang memi­liki nilai tambah. Mulai dari produk OTC, kosmetik, obat herbal, dan suplemen, ter­masuk generik. “Nilai tambah di sini dari semua sisi, dari formulanya, kuali­tas­nya, maupun penampilan obatnya,” je­las Gunawan.

Strategi marketing, diharapkan Guna­wan, timnya lebih fokus lagi agar produk-produk Kimia Farma lebih terjangkau. Be­be­rapa waktu terakhir, Kimia Farma aktif memberikan edukasi kepada masya­ra­kat. Ini menjadi program tetap Kimia Far­ma. Topik yang diangkat sangat beragam dan disampaikan oleh dokter atau apo­te­ker. “Dari ajang ini kita sekalian bisa promosi,” jelas Gunawan.

“Agar orang ingat Kimia Farma” ada­lah jawaban yang dikemukakan Gunawan saat menjelaskan kenapa strategi pela­yan­an kepada masyarakat dijalankan. Se­na­da dengan strategi perusahaannya yang lebih memilih corporate image daripada product image. Jadi bukan  menjadi ma­salah besar jika tidak ada produk Ki­mia Farma yang demikian melekat dalam benak masyarakat. “Kalau product ima­ge, tidak bisa bertahan lama. Kalalu per­usahaannya tutup, maka produk itu oto­matis juga akan hilang,” ujar Gunawan mencontohkan.

Diingat masyarakat saja tentu sangat subyektif. Tapi penghargaan 3 tahun ber­tu­rut-turut di bidang Corporate Brand dari majalah Business Week menjadi bukti tak terbantahkan bahwa image Kimia Farma be­nar-benar sudah melekat di hati dan pi­kir­an masyarakat.

Isu yang diagung-agungakan dalam in­dustri obat, yakni inovasi teknologi juga dilirik Kimia Farma. Saat ini 55% produksi obat Kimia Farma masih dikuasai obat generik. Produk unggulan yang terus di­go­dok adalah pengembangan obat esensial untuk masyarakat (public health medicine) seperti obat TB Fixed Dose Com­bi­na­tion, obat HIV/AIDS, dan obat malaria.

Ke depan Kimia Farma siap meluncurkan obat berbasis bioteknologi. Saat ini Kimia Farma mengandeng LIPI dan Uni­versitas Franhover, Jerman, mengembangkan interferon dan human albumin yang dibuat dengan teknologi molekuler farming. Gunawan menolak angka investasi yang sudah dikucurkannya untuk pe­ngembangan obat berbasis bioteknologi, karena penelitian masih terus berjalan. Ta­pi ia yakin uangnya tidak akan sia-sia. Karena dengan teknologi terbaru, harga human albumin yang kini masih mahal, bisa jauh lebih murah. Keuntungan pun sudah di depan mata.

Untuk pengambagan obat baru, Divisi Riset and Develompment Kimia Farma yang dipusatkan di Bandung terus me­ngembangkan obat herbal. Salah satu ce­lah yang ditekuni Kimia Farma memang obat-obat berbasis bahan alami. Salah sa­tu hasilnya, Batugin Elixir  untuk melu­ruh­kan batu ginjal. Dan Gunawan menjanjikan, dalam waktu dekat Kimia Farma akan meluncurkan satu obat herbal yang sangat bagus. Selamat Ulang Tahun Ki­mia farma, dan mari kita tunggu gebrakan Kimia Farma di masa depan!

sumber : http://www.majalah-farmacia.com